Tag

, , , ,

Kembali ke 2006 atau lanjut ke 2013?
Sama saja. Sebab selama ujung tombak itu tumpul, sebagus apa pun kurikulumnya akhirnya terkapar jua.

Apa sih yg terjadi di lapangan selama ini?
Tidak banyak berubah. Mindset guru pd umumnya msh berfokus pd pelaksana teknis yg tugasnya mengajar, menyampaikan materi dari buku2 yg disediakan oleh penerbit.
Sementara itu siswa didudukkan secara pasif – hny sebagai peserta, sebagai figuran – dan bukan pemain utama dlm belajar.

Jujur saja, brp bnyk guru2 kita yg mampu merumuskan ‘indikator’ atau ‘tujuan pembelajaran’, secara mandiri, yg sesuai dg karakteristik dan kebutuhan siswa setempat? Pada hal ‘indikator’ atau ‘tujuan pembelajaran’ itu pintu utama menuju pembelajaran dan penilaian yang berkualitas! Maka apa pun kurikulumnya – 2006 atau 2013 – sesungguhnya kita sedang mengalami kondisi darurat pendidikan!

Darurat pendidikan?
Ini krn telah berlangsung selama puluhan tahun! Kronis. Ganti2 kurikulum sejak 1975 tapi tdk bisa menyembuhkan masalah pendidikan. Mengapa? Salah satunya krn pendidikan dipakai sbg alat politik. Sepanjang orde baru, sekitar 32 tahun, dlm praktiknya guru2 hny didudukkan sbg pusat pembelajaran yang sekedar pelaksana teknis – bkn sbg profesional.

Selama 32 thn lebih pembelajaran hny berpusat pd ‘penyampaian materi’. Selanjutnya, di eforia reformasi telah menghadirkan ‘kurikulum2 penerbit buku ajar’. Kurikulum ‘kapitalis’ ini melengkapi mindset guru yg sejak semula sudah ‘pelaksana teknis’. Maka guru pun kian ‘serba tergantung’; tergantung pd ‘kebijakan dindik’ (yg tak jarang ‘bingung’ di tengah masa transisi content-based curr dan competency-based curr) dan para penerbit buku ajar yg dg gencar merayu dan menawarkan iming2 menggiurkan di saat gaji msh memprihatinkan.

Profesi guru pun kian mengalami ‘sakit ingkang setunggal puniko’. Dan itu berlangsung puluhan tahun lamanya.
Maka ketika ‘burung dalam sangkar’ itu dibebaskan untuk terbang, ia tak bisa (atau tak mau?) terbang sebagaimana seharusnya.

Ini faktanya, ketika guru didudukkan, dihargai dan dituntut untuk menjadi profesional – bahkan dg imbalan sertifikasi – sungguh mereka tak berdaya..!

OMG, bagaimana caranya?
Ubah mindset dan sistem yang membelenggu mereka, selanjutnya hargai & dudukkan Sang Ujung Tombak sbg profesional.

Selama ujung tombak itu tumpul, sebagus apa pun kurikulumnya akhirnya pendidikan akan terkapar jua!

Sumber : FB Yohanes Moeljadi Pranata