Written By:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari Direktur Auladi Parenting School | http://www.auladi.org

Meski sama-sama memiliki anak, setiap orangtua dapat memiliki ‘kenikmatan’ berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orangtua yang merasa menyenangkan bersama anak setiap hari, tapi tak sedikit orangtua justru sengaja menjauhkan anaknya, sehingga mereka merasa ‘bebas’ dari beban saat bersama anak.

Saya tergelitik menuliskan ini setelah sekilas memperhatikan film “The Back Up Plan” yang dimainkan Jennifer Lopez. Tak banyak film yang membuat saya tertarik, apalagi membahas nya. Tapi film ini menyeruak nurani saya sebagai orangtua, sebagai seorang ayah dari 4 orang anak. Di dalam film ini digambarkan tentang keinginan seorang perempuan memiliki bayi. Perempuan yang dimainkan Jolie ini membayangkan indahnya jadi seorang ibu, sampai-sampai harus mengambil dari donor sperma, yang tentu saja jadi nggak jelas juntrungan ayahnya siapa. Padahal ia sendiri tidak memiliki pasangan zina, apalagi pasangan dari menikah. Ia hanya ingin menikmati saja peran seorang ibu.

Mengapa sampai demikian? Mungkin saking sudah biasanya melakukan hubungan badan sebelum menikah, jadi mengapa lagi harus menikah? Begitu pikirnya. Sehingga tak heran, saking bejatnya kerusakan pola pikir ini, tak sedikit perempuan Barat hari ini yang rindu ‘dihamili’ oleh laki-laki yang bertanggung jawab. Sudah bukan rahasia umum, tak sedikit jaman ini kehamilan adalah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Ini sebenarnya penghalusan pada para pelaku zina untuk mengganti istilah kehamilan hasil zina. Misalnya sekadar menyebut satu contoh, Data Departemen Kesehatan Inggris menunjukkan, tiap tahunnya ada 4.000 prosedur aborsi yang dilakukan pada gadis berusia kurang dari 16 tahun (vivanews).

Tapi mengapa sebagian orang ngebet punya anak? Kita tahu, punya anak sebenarnya menyenangkan. Memang sih, kadang ada yang membuat kesal, capek, letih, lelah dan lain-lainnya. Tapi, jika mau jujur, sebenarnya lebih banyak yang menyenangkannya daripada yang tidak menyenangkannya bukan? Anak-anak kita lebih banyak akurnya daripada berantemnya kan? Lebih banyak tidak nangisnya daripada tidak nangisnya (kecuali tentu saja saat sakit). Benar kan?

Puluhan ribu orangtua saya sering tanya pertanyaan ini: anak ini sebenarnya anugerah atau beban sih? Sebagian besar menjawab, anak adalah anugerah! Sebagian kecil menjawab anak adalah anugerah juga beban. Dan sangat sedikit yang menjawab anak adalah beban (20-30 orang).

Tapi pertanyaan ini saya rubah redaksinya, substansinya padahal sama: anak lebih banyak memberi atau meminta? Coba tebak jawaban apa yang paling banyak? MEMINTA!

Tunggul dulu, jika anak banyak meminta, berarti anak itu beban. Jika anak anugerah seharusnya anak banyak memberi. Tentu saja ini pemaknaan hitam putih. Kenyataannya banyak orangtua yang mengungkapkan, bahwa maksud mereka anak banyak meminta juga adalah meminta dalam artian bahwa ini adalah ‘ladang amal kebaikan’ juga untuk para orangtua. Jadi, ujung-ujungnya ya anugerah juga.

Benarkah begitu? Benarkah amanah itu adalah anugerah? Boleh tidak setuju, saya sangat setuju anak lebih banyak jadi anugerahnya daripada bebannya. Tapi saya termasuk yang tidak setuju anak lebih banyak meminta daripada memberi.

Memang apa yang anak berikan pada kita? Oh, rasanya tidak bisa dihitung. Ketika kita melihat bayi kita yang berusia 2 bulan tersenyum pertama kali ketika diajak bermain dengan kita, apa yang kita rasakan? Ketika anak kita yang usia 2 tahun bernyanyi di atas sofa, apa yang kita rasakan? Ketika anak kita ngomong sendiri atau ngoceh terus dengan bonekanya, apa yang kita rasakan? Ketika anak kita mencium pipi kita, apa yang kita rasakan? Ketika kita melihat dengan lekat pada wajah anak kita saat mereka tidur, apa yang hati kita rasakan? Ketika kita curhat dan cerita bareng dengan anak remaja kita: ngomongin gurunya, temannya, ‘ghibahin’ ayah/ibunya, perasaan apa yang kita alami?

Senyum-senyum sendiri, tertawa bersama, terharu, seru, atau apapun pilihan katanya, mungkin makna-makna positif yang kita bangun dalam konteks pikiran kita bukan?

Salah satu term anak yang sering disebut di dalam al-Qur’an adalah “aulad” dalam Al-Qur’an adalah “walad” atau “aulad” dan ini seringkali disandingkan dengan kata “amwal” (harta). Harta, anak pada awalnya diturunkan memang agar menjadi rezeki, sebagai karunia yang menyenangkan orang yang menerima. Tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, bukankah tak sedikit harta justru dapat mencelakakan manusia yang memiliki harta tersebut?

Demikian juga dengan anak, awalnya ia adalah semacam rezeki yang menyenangkan yang diterima orangtua. Tetapi jika tidak pandai mengeloalnya, anak-anak ini sebagian mereka malah jadi beban buat orangtuanya dan menjadi masalah buat lingkungannya.

Meski sama-sama memiliki anak, setiap orangtua dapat memiliki ‘kenikmatan’ berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orangtua yang merasa menyenangkan bersama anak setiap hari, tapi tak sedikit orangtua justru sengaja menjauhkan anaknya, sehingga mereka merasa ‘bebas’ dari beban saat bersama anak.

Jadi apa yang membedakannya? Oh tentu saja banyak faktor. Dua faktor penting diantaranya adalah niat dan cara orangtua mengelola anak itu sendiri. Niat berkaitan dengan pemaknaan orangtua terhadap anak, tentang mengapa mereka menikah, hamil atau menghamili, dan mengapa mereka bersedia melahirkan anak. Sedangkan faktor pengelolaan adalah berkaitan dengan pola-pola yang mereka kembangkan dalam mengasuh anak.

Faktor pertama, niat memiliki anak adalah faktor utama dan terbesar dalam mempengaruhi faktor kedua: bagaimana cara mereka membesarkan anak. Coba kita tanyakan pada diri kita sendiri, mengapa kita punya anak?

Jawabanya kita bisa berbeda-beda tentunya. Tapi saat saya tanya ini pada puluhan ribu orangtua di 18 propinsi lebih dari 60 kota di Indonesia ada dua jawaban besar, yaitu pertama jawaban yang memang ‘niat banget’ punya anak yang dilandasi landasan ideal atau setidak-tidaknya sok idealis. Dan kedua jawaban yang ‘mengalir’ begitu saja.

Sebagian memang menjawab dengan salah satu jawaban-jawaban kategori pertama seperti contoh berikut: untuk investasi dunia akhirat, penerus generasi, meneruskan keberlangsungan kehidupan di muka bumi, agar tua ada yang jagain, agar mati ada yang doain.

Tapi sebagian besar justru kebingungan sendiri. Jawaban-jawaban seperti “Ya begitu saja”, “mengalir”, “orang menikah kan wajar punya anak”, “ya dikasih saja sama Allah”. Singkatnya dengan jawaban itu dirangkum dengan satu kata “saya punya anak ya karena takdir Allah”.

Tentu saja yang ada di dunia terjadi atas takdir Allah. Tapi takdir itu semacam final result, sebelum final result ada proses sunatullah yang harus dijalani terlebih dahulu. Kuda lepas, itu takdir Allah, tapi prosesnya karena kuda itu tidak diikatkan lebih dahulu. Pun, demikian punya anak, selain takdir Allah, tentu ada prosesnya dan dari awal sebelum menikah, kita harusnya tahu mengapa kita punya anak?

Jika jawaban kita termasuk yang kategori kedua, yang mengalir begitu saja. Maka, ini akan berdampak terhadap pola perilaku kita pada anak. Jika kita termasuk yang kategori ini, sebelum menikah kita memang siap menikah tapi tidak mempersiapkan diri jadi orangtua. Pola asuh ‘warisan’ dan ‘trial’ adalah modal utamanya. Mereka memang mempersiapkan diri, tapi setelah janin baru hadir di dalam rahim. Itu pun lebih pada asesoris kelahiran: mempersiapkan baju bayi, box bayi, kereta dorong atau sejenisnya.

Berbeda dengan orang-orang yang memang punya niat untuk memiliki anak, (seharusnya) insya Allah sebelum menikah mereka akan mempersiapkan lebih dahulu sebelum jadi orangtua bagaimana membesarkan anak-anak yang akan mereka lahirkan. Mereka akan mempersiapkan ‘baju akhlak’ apa yang harus dipakaikan pada anak, ‘box norma-norma’ apa yang harus diinstallkan pada anak mereka atau ‘kereta dorong pemikiran’ apa yang akan mereka installkan pada anak mereka. Lalu sebelum menikah, ini diwujudkan dengan cara membaca banyak buku tentang pendidikan anak, rajin mengikutkan diri pada seminar-seminar pendidikan anak. Bahkan, salah seorang staf saya yang belum menikah mewajibkan dirinya sendiri, menargetkan dirinya sendiri, untuk membaca sekian buku tentang pendidikan anak sebelum menikah.

Tentu saja, ini bukan pula jaminan seseorang yang mempersiapkan diri jadi otomatis akan jadi orangtua hebat. Tetapi,setidak-tidaknya akan selalu ada perbedaan orangtua yang rajin membaca buku pendidikan anak dengan yang tidak, orangtua yang rajin mengikut seminar atau pelatihan pendidikan anak dengan yang tidak. Jadi termasuk kategori manakah kita?

Sumber :
http://auladi.org/content/detailcontent/124